notes / 12 Apr 2026 / 8 min read / 0 views

Cerita Perjalananku di LKS Web Technology

Cerita Perjalananku di LKS Web Technology

Awal Cerita

Semua ini dimulai saat aku masih duduk di kelas 11, Waktu itu, aku terpilih untuk mewakili sekolahku, SMKN 8 Jember, dalam ajang LKS (Lomba Kompetensi Siswa) di bidang lomba Web Technology. Saat itu kemampuanku baru mentok di HTML, CSS, dan Javascript. Sementara itu, teknologi seperti Laravel dan React adalah makhluk asing yang baru pertama kali kudengar.

Aku tidak sendirian, ada temanku, Dewa, yang juga terpilih untuk mewakili bidang IT Software Solution. Sebagai persiapan awal, kami berdua diikutkan program bootcamp di PT Universal Big Data (UBIG) Malang.

Perjalanan kami dimulai dengan fase pra-bootcamp pada bulan November. Selama sebulan, kami harus bolak-balik latihan 1-2 kali seminggu, Materi yang diberikan benar-benar fokus pada standar LKS, dan ya... itu terasa sangat sulit untuk diriku ini yang baru melangkah dari dasar web.


Masa-Masa Singgah di Malang

Sekitar tanggal 8 Desember kalo nggak salah, aku mulai berangkat ke Malang untuk mengikuti bootcamp intensif. Di sana, aku bertemu dengan banyak siswa hebat yang menjadi perwakilan dari sekolah mereka masing-masing.

Di UBIG, kami dilatih menggunakan metode simulasi ril seperti lomba aslinya. Bayangkan, kami diberi alokasi waktu ketat, hanya 4 jam untuk menyelesaikan setiap modul. Saat itu, ada 3 modul utama yang harus dikuasasi:

  1. Server Side: Fullstack menggunakan Laravel dan React
  2. Client Side: Pembuatan game/aplikasi interaktif dengan HTML Canvas
  3. Speedtest: Uji kecepatan coding dasar menggunakan HTML, CSS, JS, dan PHP

Sulit? Banget. Tapi dari simulasi yang menguras energi fikiran inilah yang menempa mental kami agar tidak kaget saat lomba nanti. Bonusnya, aku bisa mengukur kekuatan calon-calon pesaing dari daerah lain.

Setelah program bootcamp selesai, aku dan Dewa tidak langsung pulang ke Jember. Kebetulan, Praktik Kerja Lapangan (PKL) wajib dari sekolah langsung menyambung saat itu juga. Pihak jurusan juga memutuskan agar kami melanjutkan PKL langsung di UBIG.


Kilas Balik LKS Kabupaten 2025

Memasuki bulan februari 2025, waktu perlombaan tingkat kabupaten sudah semakin mepet. Aku dan Dewa pulang ke Jember untuk fokus latihan di sekolah. Suasana sekolah saat itu sepi, tidak ada teman-teman sekelas karena mereka semua juga PKL di tempatnya masing-masing. Setelah pulang ke rumah pum, aku masih lanjut mengulik soal hingga ngantuk.

Berdasarkan hasil Technical Meeting (TM), LKS Web Technology tingkat kabupaten Jember 2025 akan dilaksanakan selama satu hari penuh dengan durasi 8 jam untuk menyelesaikan 3 modul sekaligus. Tempat pelaksanaannya di Lab SMKN 6 Jember, dengan dua juri ahli: Pak Citra dari Mascitra.com dan Pak Afrizal dari Hummatech


H-1 Persiapan Alat

Siang menjelang sore, aku ditemani guru pembimbingku, Pak Anas, berangkat ke tempat koordinasi untuk mempersiapkan alat dan mengambil nomor urut. Saat Pak Anas yang mengambil undian... dan yap, takdir berkata, aku mendapat nomor urut 1! Pak Anas sambil tertawa kecil, dan aku hanya bisa menghela napas sambil tertawa (tertawa tapi ter...), tapi gapapa,

"Semoga juaranya nanti juga sama seperti nomor urut ini." dalam hati.

Aku langsung menuju komputer lomba untuk melakukan instalasi semua software dan framework yang dibutuhkan. Aku double check semuanya, testing di mode offline, dan semuanya berjalan tanpa kendala. Setelah yakin, aku mencentang lembar verifikasi, menandatanganinya, lalu pulang.


Hari H Lomba

Besok paginya, aku berangkat ke lokasi lomba bersama pak Anas. Tepat pukul 07.30, kompetisi dimulai dan soal pun dibagikan dalam bentuk cetak dan PDF.

Untuk modul Server Side, tantangannya adalah membuat website penentuan jurusan SMK berbasis kuestional, atau semacam sistem CAT (Computer Assisted Test). Aku memutuskan untuk fokus menyelesaikan modul ini terlebih dahulu. Namun, di sinilah masalah dimulai.

Saat mencoba mengimpor database SQL bawaan soal, sistem terus-terusan mengeluarkan pesan errawr. Waktu terus berjalan, terpaksa aku memuat migrasi databasenya secara manual satu persatu, lalu melanjutkan pembuatan tiap-tiap endpoint API nya.

Masalah belum selesai, begitu aku tes menggunakan postman, ternyata postman nya tidak bisa dipakai untuk membuat collection baru karena posisinya sedang offline. Oke, masalah itu masih ada solusinya. Begitu semua API selesai dan aku beralih ke bagian Frontend (React JS), masalah kedua yang lebih besar datang: React nya tidak bisa jalan karena ada dependensi yang hilang.

Aku langsung angkat tangan dan bertanya ke juri. Tapi sesuai regulasi ketat LKS, peserta sama sekali tidak boleh mengakses internet setelah lomba dimulai. Keringat dingin langsung mengucur. Pikiranku kacau. Perasaan kemarin saat persiapan alat sudah aku double check semua dan aman-aman saja, kenapa sekarang malah begini?

melihat waktu yang terus berjalan, akhirnya aku mengambil keputusan untuk men-skip total bagian Frontend dan langsung melompati sisa modul lainnya. Untungnya, aku masih bisa menyelesaikan sisa modul yang lain dengan baik hingga waktu habis.

Saat sesi presentasi tiba, sebagai nomor urut 1, aku maju pertama kali. Aku mempresentasikan hasil kerjaku apa adanya, memperlihatkan API di postman yang berfungsi tapi tanpa tampilan Reactnya yang selesai karena error tadi. Aku pulang hari itu dengan perasaan kecewa yang teramat sangat. Ada rasa bersalah kepada guru-guru yang sudah menaruh harapan besar padaku, meskipun mereka tetap menenangkanku dengan kalimat-kalimat penyemangat.


Pengumuman Hasil

Hari Jumat tiba, hari penutupan LKS Dikmen Jember 2025 sekaligus momen pengumuman. Jantungku berdegup kencang luar biasa. Jujur, aku sudah sangat pesimis dan merasa paling mentok hanya akan mendapat juara 4 atau 5, itu pun kalau beruntung.

Satu per satu nama teman-temanku dari bidang lomba lain sudah tertera: Juara 1, Juara 1, Juara 1. Begitu masuk ke bidang Web Technology... namaku muncul sebagai Juara 3.

Jleg. Ada rasa syukur karena masih diapresiasi, tapi di sisi lain ada rasa sedih yang mendalam karena LKS web ini hanya Juara 1 dan 2 yang berhak memegang tiket lolos ke tingkat Provinsi. Impian provinsiku terhenti di tahun itu. Setelah itu, aku kembali melanjutkan sisa masa PKL-ku hingga bulan Juni dengan sisa-sisa evaluasi di kepala.



LKS Kabupaten Jember 2026

Waktu berputar cepat hingga menjelang musim LKS 2026. Saat itu, jadwalku sedang padat-padatnya karena harus mempersiapkan Ujian Kompetensi Keahlian (UKK) sekolah. Tiba-tiba, aku diminta oleh pihak jurusan untuk ikut LKS lagi. Kebetulan, ada regulasi baru dari pusat yang memperbolehkan siswa kelas 12 untuk ikut berkompetisi (berlaku sejak tahun lalu, bahkan pemenangnya saat itu juga anak kelas 12).

Aku menerima tantangan itu. Kali ini tekanannya berbeda. Ada target besar yang dibebankan di pundakku: minimal harus lolos ke tingkat provinsi. Tapi sebenarnya, tanpa ditarget pun, itu sudah menjadi dendam pribadiku yang belum tuntas.

Akhirnya aku mulai membagi waktu yang super ketat antara belajar UKK, tugas sekolah, dan mengulik kembali soal-soal LKS terdahulu. Kondisinya semakin menantang karena di waktu yang bersamaan, aku juga sedang mengikuti kompetisi hackathon Dinacom di UDINUS Semarang. Hari-hariku benar-benar habis di depan laptop dan VS Code.

Tepat H-7 LKS Kabupaten, aku baru saja menginjakkan kaki pulang dari Semarang. Aku langsung mengikuti Technical Meeting secara online. Hasilnya: LKS Web Technology Jember 2026 akan diadakan di Lab SMKN 6 Jember dengan juri Pak Citra dari PT Mascitra. Waktunya tetap 8 jam dalam 1 hari, namun kali ini modulnya dipangkas menjadi dua saja: Server Side dan Client Side.


H-1 Persiapan Alat

Jam 1 siang, aku datang ke SMKN 6 Jember ditemani guru pembimbingku, Bu Setyo. Agenda pertama: pengambilan nomor urut. Kali ini aku mengambilnya sendiri. Dan tebak apa yang terjadi? Nomor urut 1 lagi! Benar-benar dejavu yang luar biasa.

Masuk ke sesi instalasi alat, aku belajar banyak dari trauma tahun lalu. Kali ini aku tidak mau ceroboh. Semua software, framework, dependensi, hingga template dasar aku backup berlapis-lapis di lokal komputer untuk mengantisipasi masalah offline. Aku menghabiskan waktu cukup lama di lab hanya untuk memastikan tidak ada satu pun package yang tertinggal. Begitu semuanya terasa solid dan tanpa celah, aku tandatangani berkas verifikasi lalu pulang dengan yakin.


Hari Pertandingan

Pukul 07.00 pagi, aku dan Bu Setyo sudah tiba di lokasi. Setengah jam kemudian, lomba resmi dimulai setelah juri membacakan teknis pengerjaan soal.

Aku membuka lembar soal pertama: Modul Server Side. Tugasnya adalah membuat Sistem Informasi Rumah Sakit yang mencakup pendaftaran pasien, konsultasi medis, dan kuesioner otomatis untuk menentukan apakah pasien harus rawat jalan atau rawat inap.

Kemudian aku membuka lembar soal kedua: Modul Client Side. Begitu membaca halaman pertamanya, peserta diminta membuat game Flappy Bird menggunakan JavaScript murni. Detik itu juga aku membatin dalam hati, "Oke, mari kita amankan Server Side sampai sekokoh mungkin dulu wkwk."

Proses pengerjaan Server Side berjalan sangat lancar. Struktur database aman, API berjalan sesuai ekspektasi, dan integrasi dengan React-nya kali ini berjalan mulus tanpa ada drama error dependency seperti tahun lalu. Namun, karena detail fiturnya cukup kompleks, alokasi waktu habis sebelum aku sempat menyentuh game Flappy Bird di Client Side.

Sesi presentasi dimulai, dan lagi-lagi aku menjadi penampil pertama. Presentasiku berjalan lancar dan meyakinkan di bagian sistem rumah sakit, meskipun aku harus berterus terang kepada juri kalau bagian game-nya belum sempat tersentuh. Setelah itu, giliran peserta lain maju hingga matahari mulai meredup di sore hari.


Momen Pembuktian

Selesai presentasi terakhir, juri memutuskan untuk langsung mengumumkan hasilnya hari itu juga di dalam lab. Suasana seketika berubah menjadi tegang. Juri mulai membacakan peringkat dari bawah: peringkat 6, peringkat 5, peringkat 4... dan namaku masih belum disebut.

Jantungku berdegup kencang. Peringkat 3 disebut... dan masih bukan namaku. Itu artinya aku otomatis masuk ke dalam 2 besar! Dan akhirnya...

"Juara 1 LKS Web Technology Kabupaten Jember 2026 jatuh kepada... Peserta 1 dari SMKN 8 Jember!"

ALHAMDULILLAH! Rasanya lega. Dendam tahun lalu terbayar lunas. Aku berhasil mengamankan peringkat pertama sekaligus mengantongi tiket resmi menuju LKS Tingkat Provinsi Jawa Timur!

Pada hari penutupan resmi LKS, aku maju ke atas panggung dengan senyuman lepas sebagai Juara 1.


Perjalanan Ke Provinsi

Setelah euforia kabupaten selesai, realita kelas 12 kembali menyambut. Jadwal UKK sekolah sudah menanti di depan mata. Melihat jadwalku yang tumpang tindih, Pak Kukuh selaku Kepala Program Keahlian (Kaprogli) RPL memberikan kelonggaran penuh,

"Kamu fokus persiapan LKS Provinsi saja."

Kebijakan itu membuatku bisa membagi fokus dengan lebih baik, tetap mengikuti UKK sembari menggenjot latihan untuk level provinsi yang terkenal jauh lebih ganas.

Waktu berjalan cepat hingga tanggal 6 April 2026, bertepatan dengan hari pertama ujian PSAJ di sekolah. Pagi-pagi sekali, aku berangkat bersama guru pembimbing menuju Surabaya, kota yang menjadi saksi bisu perjuangan berikutnya.

Hari pertama di Surabaya belum ada apa-apa. Jadwal hari itu baru sebatas familiarisasi alat untuk bidang lombanya Dewa. Untuk bidang Web Technology, sesi familiarisasi baru digelar keesokan harinya di SMKN 1 Surabaya. Kami mengumpulkan alat, melakukan pengecekan komputer, dan mendengarkan penjelasan teknis dari dewan juri provinsi secara luring.


Hari Pertama Kompetisi: Modul Client Side

Rabu pagi pukul 08.00. Tantangan hari pertama adalah Modul Client Side dengan durasi pengerjaan selama 4 jam hingga pukul 12.00.

Juri membacakan soal yang cukup mengejutkan: kami diminta membuat sebuah aplikasi Connection Visualizer. Di dalam aplikasi ini, pengguna harus bisa membuat objek lingkaran di layar canvas, memberi label pada lingkaran tersebut, menghubungkannya satu sama lain menggunakan garis interaktif, dan sistem harus bisa menghitung serta menampilkan jalur terpendek (shortest path) di antara lingkaran-lingkaran tersebut.

Secara logika dan algoritma, mekanismenya langsung terbayang di kepalaku. Aku memutuskan untuk mengeksekusinya menggunakan HTML Canvas. Namun, di tengah-tengah, ada momen konyol yang membuatku panik: aku mendadak lupa fungsi JavaScript untuk menggambar lingkaran sempurna di Canvas! Daripada membuang waktu berharga hanya untuk mengingat satu baris fungsi, aku langsung memutar otak dan mengganti semua objek lingkaran menjadi bentuk kotak (shape square). Yang penting fungsi logika dan fiturnya berjalan dengan benar. Begitu waktu habis, dari segi fungsionalitas, aplikasiku berjalan aman sesuai ketentuan soal. Aku pulang ke hotel hari itu dengan rasa optimis yang cukup tinggi.


Hari Kedua Kompetisi: Modul Server Side

Kamis pagi, babak penentuan dimulai dengan Modul Server Side, masih dengan durasi ketat yang sama yaitu 4 jam. Soal dibacakan, dan tantangannya adalah membuat sebuah Website Builder Platform menggunakan Laravel dan React, sebuah sistem kompleks yang konsepnya mirip seperti WordPress mini, di mana pengguna bisa membuat website mereka sendiri lewat dasbor.

Aku langsung tancap gas. Struktur backend menggunakan Laravel berhasil kuselesaikan dengan rapi. API-API penting untuk manajemen konten berhasil dibuat. Namun, memindahkan semua logika itu ke tampilan React dengan sisa waktu 1 setengah jam adalah tantangan yang *&#%^%@^&HWUWJNVW@&#@. Ketika waktu habis, aku baru berhasil menyelesaikan bagian Frontend hingga fitur autentikasi pengguna saja. Meski belum selesai 100%, pencapaian itu sudah membuatku merasa cukup kompetitif dibanding peserta lain.


Akhir Cerita: Pelajaran Berharga


Sore hari menjelang Maghrib, suasana di ruangan pengumuman terasa sangat menegangkan. Pihak juri mengumumkan bahwa mereka akan langsung mengumumkan posisi 3 besar terbaik hari itu juga. Satu per satu nama dari posisi ketiga hingga pertama dibacakan oleh juri di depan mikrofon. Aku menahan napas, berharap namaku disebut di sana mengingat rasa optimis yang kubawa dari modul Client Side kemarin. Tapi hingga nama terakhir disebut... namaku belum berhasil masuk ke jajaran 3 besar tersebut.

Ada rasa sesak yang sempat mampir di dada, apalagi saat itu aku sedang berada di puncak rasa optimis. Ternyata persaingan di tingkat provinsi memang berada di level yang berbeda. Akhirnya, kami pun mengemas barang dan memutuskan untuk langsung melakukan perjalanan pulang ke Jember.

Beberapa hari kemudian, lembar rekapitulasi nilai keseluruhan dari panitia provinsi resmi dirilis secara online. Aku langsung membuka filenya dan mencari namaku di daftar tersebut.

+------------------------------------+
| RANK | NAMA PESERTA |
+------------------------------------+
| 01 | Peserta Kota X |
| 02 | Peserta Kabupaten Y |
| 03 | Peserta Kota Z |
| .. | ... |
| 06 | AHMAD ROYHAN NAJIB | <--- Peringkatku
+------------------------------------+

Aku berada di Peringkat 6 Tingkat Provinsi Jawa Timur.

Meleset sedikit saja dari zona medali utama. Meskipun ada rasa penasaran yang tersisa, tapi begitu merefleksikan kembali perjalanan ini dari awal kelas 11, di mana aku tidak tahu apa-apa tentang Laravel dan React, hingga kini bisa bersaing dengan siswa-siswi terbaik perwakilan sekolah di tingkat provinsi, rasanya tidak ada alasan untuk tidak bersyukur.

Alhamdulillah. Perjalanan LKS ini memberikan jauh lebih banyak hal daripada sekadar piala: mentalitas, kemampuan problem solving, dan bukti bahwa kegagalan di tahun lalu bisa diubah menjadi kemenangan di tahun berikutnya jika kita mau belajar dari pengalaman.


Terimakasih...

Diskusi